Senin, 18 April 2011

Teknik Sampling Kerja

 Sampling pekerjaan (work sampling) adalah suatu prosedur pengukuran yang dilakukan pada waktu tertentu secara acak yang dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas, dimana pengamatan yang dilakukan menggunakan sampel yang diambil secara random. Pengambilan sampel dibenarkan karena adanya keterbatasan waktu, tenaga dan biaya yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan pengamatan terhadap seluruh anggota populasi. Sampling pekerjaan sangat cocok digunakan dalam melakukan pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak berulang dan memiliki siklus waktu yang relatif panjang. Sampling dilakukan secara sesaat-sesaat pada waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Oleh karena itu penggunaan tabel acak sangat diperlukan dalam metode ini.
Sebelum melakukan sampling, terlebih dahulu kita harus melakukan langkah persiapan awal yang terdiri atas pencatatan segala informasi dari semua fasilitas yang ingin diamati serta merencanakan jadwal waktu pengamatan berdasarkan prinsip randomisasi (aplikasi tabel acak). Setelah itu melakukan sampling yang terdiri dari tiga langkah yaitu melakukan sampling pendahuluan, menguji keseragaman data dan menghitung jumlah kunjungan kerja.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang dapat dipertanggung jawabkan secara statistik, perlu ditempuh langkah-langkah yang dijalankan sebelum sampling dilakukan, yaitu:
1.      Menetapkan tujuan pengukuran yaitu untuk apa sampling dilakukan, yang akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.
2.      Jika Sampling dilakukan untuk mendapatkan waktu baku, lakukanlah penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya suatu sistem kerja yang baik, jika belum ada lakukan perbaikan atas kondisi dan cara kerja terlebih dahulu.
3.      Memilih operator-operator yang representatif untuk diukur.
4.      Melakukan pelatihan bagi operator yang dipilih agar bisa dan terbiasa dengan sistem kerja yang dilakukan.
5.      Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.
6.      Menyiapkan peralatan yang diperlukan berupa papan atau lembaran pengamatan.
7.      Melakukan pemisahan kegiatan menjadi elemen–elemen pekerjaan yang akan diukur.
8.      Menentukan waktu pengamatan melalui bilangan acak dari tabel bilangan random atau dari komputer.
Kegunaan metode work sampling adalah:     
1.      Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu kerja oleh pekerja atau kelompok kerja.
2.      Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau peralatan kerja.
3.      Untuk menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja non-produksi.
4.      Untuk memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
5.      Untuk mengetahui beban kerja dari pekerja non-produktif.
Adapun beberapa aplikasi dari metode sampling pekerjaan untuk berbagai kegiatan  antara lain sebagai berikut:
1.        Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu baku.
2.        Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu tunggu (delay allowance).
3.        Aplikasi sampling kerja untuk aktivitas perawatan (maintainance).
4.        Aplikasi sampling kerja untuk kegiatan perkantoran (office work).
5.        Aplikasi sampling kerja untuk mengamati kegiatan pemimpin perusahaan.


Sampling Pendahuluan
Pada langkah ini dilakukan sejumlah pengamatan terhadap aktivitas kerja dari operator yang diamati untuk mengetahui sistem kerja terbaik dan mengetahui  selang waktu yang diambil secara acak..Untuk itu sebuah sampling pekerjaan juga menuntut penghitungan waktu baku penyelesaian suatu pekerjaan. Waktu yang akhirnya diperoleh setelah pengukuran selesai adalah waktu penyelesaian pekerjaan untuk sistem kerja yang dijalankan ketika pengukuran berlangsung. Jadi waktu penyesuaiannya juga hanya berlaku untuk sistem tersebut.  
Pada sampling pendahuluan juga dilakukan sejumlah kunjungan untuk mengetahui selang waktu (Dt) dari operator yang bekerja selama satu siklus pekerjaan. Dalam pengamatan ini juga dilakukan pemilihan operator yang bekerja normal untuk diamati pada pengamatan selanjutnya. Melalui penelitian ini akan diketahui total waktu kerja dari stasiun kerja operator yang bersangkutan yang selanjutnya ditentukan jam pengamatan sesuai dengan interval waktu dan waktu siklus serta jam istirahat untuk menentukan populasi pengamatan pekerjaan dan penentuan sampel pengamatan yang akan diamati. Atau jika memungkinkan, dilakukan pelatihan kepada operator untuk sistem kerja terbaik agar operator terbiasa dengan sistem kerja yang ada dan dapat mewakili pekerja lain yang tidak diamati.

2.1.2.  Pengujian Keseragaman dan Kecukupan Data
            Pengujian keseragaman data adalah suatu pengujian yang berguna untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan berasal dari satu sistem yang sama. Melalui pengujian dapat mengetahui adanya perbedaan data di luar batas kendali (out of control) yang dapat digambarkan pada peta kontrol. Data-data yang demikian dibuang dan tidak dipergunakan dalam perhitungan selanjutnya. Untuk membuat peta kontrol, terlebih dahulu tentukan batas-batas kontrolnya dengan memakai rumus sebagai berikut:
p  =  S pi
`n =  S n i



Keterangan: 
pi = persentase produktif di hari ke-i
ni = jumlah pengamatan yang dilakukan pada hari ke-i
k  = harga indeks besarnya tergantung pada tingkat kepercayaan
n  = rata-rata jumlah pengamatan keseluruhan
            Untuk melakukan pengamatan dalam sampling kerja maka masing-masing kejadian yang diamati selama aktivitas berlangsung harus memiliki kesempatan yang sama untuk diamati.
            Pengujian kecukupan data adalah suatu pengujian yang berguna untuk memastikan bahwa data yang digunakan cukup untuk digunakan sebagai bahan penelitian, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


Keterangan:    
S  = tingkat ketelitian yang dikehendaki (desimal).
= persentase terjadinya kejadian yang diamati (desimal).
N = jumlah pengamatan yang harus dilakukan untuk sampling kerja.
K = harga indeks besarnya tergantung pada tingkat kepercayaan.
Catatan:  
Tingkat kepercayaan 68% harga k = 1
Tingkat kepercayaan 95% harga k = 2
Tingkat kepercayaan 99% harga k = 3
            Apabila setelah dihitung, ternyata harga N’ lebih kecil daripada harga sebenarnya, maka pengamatan berhenti karena dianggap telah mencukupi. Sebaliknya jika harga N’ tersebut lebih besar dari harga sebenarnya, maka dilakukan langkah pengamatan dari awal.
            Frekuensi pengamatan pada hakikatnya tergantung pada jumlah pengamatan yang diperlukan dan waktu yang tersedia untuk pengumpulan data yang direncanakan.


2.1.3.      Perhitungan Jumlah Pengamatan yang Diperlukan
Penetapan jumlah pengamatan yang dibutuhkan dalam aktivitas teknik sampling selama ini dikenal lewat formulasi-formulasi tertentu dengan mempertimbangkan dua faktor utama yaitu:
1.      Tingkat ketelitian (degree of accuracy) dari hasil pengamatan.
Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya.
2.      Tingkat keyakinan (level of convidence) dari hasil pengamatan.
Tingkat keyakinan menunjukkan seberapa besar keyakinan si pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi.
Contohnya data dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% artinya bahwa penyimpangan yang diperbolehkan dari rata-rata sebenarnya adalah sebesar 5% dan pengukur yakin bahwa data yang diperoleh itu benar sebesar 95%.
Rumus:




Keterangan:    
S  = tingkat ketelitian yang dikehendaki (desimal).
= persentase terjadinya kejadian yang diamati (desimal).
N = jumlah pengamatan yang harus dilakukan untuk sampling kerja.
K = harga indeks besarnya tergantung pada tingkat kepercayaan.
Catatan:  
Tingkat kepercayaan 68% harga k = 1
Tingkat kepercayaan 95% harga k = 2
Tingkat kepercayaan 99% harga k = 3
                 Dalam menentukan ukuran sampel (n) yang harus diambil dari populasi agar memenuhi persyaratan representatifan, tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli metodologi penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti, maka rumus Slovin dibawah ini dapat digunakan:
Rumus Slovin
 
Keterangan:
n  =  Ukuran sampel
N =  Ukuran populasi
e = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditolerir, misalnya 5%
                 Batas kesalahan yang ditolerir ini untuk setiap populasi tidak sama, ada yang 1 %, 2 %, 3 %, 4 %, 5 %, atau 10 %.




Jangan lupa tinggalkan comment ya

3 komentar:

semoga membantu

^_^